Rabu, Juli 04, 2012

Casual Culture

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar "Supporter bola" ? tentu saja kalian pasti akan tertuju pada pendukung salah satu tim dari olahraga bola sepak, bukan bola basket, bola tennis, atau pun bola takraw. Dari kata tersebut pula, imajinasi kita mungkin akan menggambarkan sekelompok orang yang berada di sekeliling lapangan di dalam stadion maupun di depan televisi untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Pertanyaan selanjutnya, sesempit itukah ? 

Jika kita mendalami kata "Supporter bola" tersebut, ternyata memiliki bahasan yang cukup kompleks dan luas, mulai dari sejarah, pengelompokan, kultur, rivalitas, chants, warna, dan lain-lain. 

Berdasarkan pengelompokkannya, jenis supporter bisa terbagi-bagi berdasarkan kultur dan cara mendukung tim mereka.  Menarik untuk mengenal lebih jauh mengenai ciri khas dari masing-masing macam supporter, mulai dari cara berpakaian, tindakan, serta kreativitas dalam mendukung tim saat berada di area stadion.

Kita mulai dari  subkultur Casual.
Merupakan subbagian dari budaya asosiasi sepak bola yang ditandai oleh hooliganisme sepak bola dan mengenakan pakaian desainer mahal Eropa. Subkultur berasal di Inggris pada akhir 1970-an ketika banyak hooligan mulai memakai label desainer dan olahraga mahal untuk menghindari perhatian polisi. Mereka tidak memakai warna klub, sehingga lebih mudah untuk menyusup kelompok saingan dan untuk masuk ke pub.




Sejarah Casual.
Subkultur kasual dimulai pada akhir 1970-an setelah penggemar Liverpool FC dan Everton FC  memperkenalkan seluruh Inggris pada mode Eropa yang mereka peroleh saat mengikuti tim mereka di pertandingan Eropa. Fans ini tiba kembali di Inggris dengan desainer olahraga mahal dari Italia dan Perancis, yang sebagian besar mereka jarah dari toko. Para penggemar membawa kembali banyak merek pakaian unik yang tidak pernah terlihat di negara ini sebelumnya. Kemudian penggemar lainnya kaget terhadap barang-barang pakaian langka, seperti pakaian Lacoste atau Sergio Tacchini, bahkan Adidas. Pada saat itu, pasukan polisi masih banyak mengawasi supporter skinhead yang mengenakan sepatu Dr Martens, dan tidak memperhatikan fans dengan desainer pakaian mahal.



Pada 1980-an, label pakaian  yang terkait dengan casual terdiri dari: Ellesse, Pringle, Burberry, Fila, Stone Island, Umbro, CP Company, Fiorucci, Pepe, Benetton, Ralph Lauren, Henri Lloyd, Lyle & Scott, Ben Sherman, Fred Perry, Kappa dan Slazenger. Tren fashion sering berubah, dan subkultur kasual mencapai puncaknya pada akhir 1980-an.  




Pada pertengahan  1990-an, subculture casual mengalami kebangkitan, tetapi penekanan gaya telah berubah sedikit. Banyak penggemar sepak bola mengadopsi tampilan casual sebagai semacam seragam, mengidentifikasi mereka sebagai berbeda dari pendukung klub biasa. Merk pakaian terkenalnya adalah Stone Island, Aquascutum, Burberry, Lacoste, Prada, Façonnable, Hugo Boss, Maharishi, Mandarina Duck dan Dupe. Pada akhir 1990-an, banyak pendukung sepak bola mulai bergerak menjauh dari merk yang dianggap seragam, karena perhatian polisi bahwa merk ini menarik. Beberapa desainer juga menarik desain tertentu setelah desain mereka termasuk kedalam casual. 




 



Busana casual mengalami peningkatan popularitas di tahun 2000-an, seperti yang dilakukan musik Inggris seperti The Streets dan The Brothers Mitchell dengan menggunakan pakaian olahraga casual pada video musik mereka. Budaya casual telah disorot oleh film dan program televisi seperti ID, The Firm, The Football Factory dan Green Street





Meskipun beberapa casual terus mengenakan pakaian Stone Island di tahun 2000-an, banyak yang terlepas lencana kompas sehingga menjadi kurang jelas. Namun, dengan dua jahitan masih menempel, orang yang tahu masih bisa mengenali item pakaian. Label pakaian lain yang terkait dengan casual di tahun 2000 terdiri dari: Adidas, Lyle & Scott, Fred Perry, Armani, Lambretta, Lacoste, nudie Jeans, Edwin dan Superga. Banyak casual telah mengadopsi tampilan yang lebih halus dan underground, menghindari merek pakaian yang lebih utama untuk label pakaian independen.






Berikut beberapa contoh Ultras Eropa yang menggunakan budaya Casual, pakaian yang digunakan berdasarkan perubahan jaman di era modern.














Feyenord Rotterdam






Barusan merupakan contoh Firm yang melakukan budaya casual di Eropa sana. Namun, supporter di Indonesia pun mulai marak mengadopsi budaya yang lahir di Inggris tersebut. Sejauh ini yang saya tahu ada beberapa di klub Indonesia, diantaranya Jakarta Casual (JC) untuk Persija, Flower City Casuals (FCC) untuk Persib, MVMNT untuk Arema.
Berikut beberapa pict. untuk FCC.




Hands In The Air
FCC
FCC

Budaya jalan kaki menuju stadion juga diperlihatkan firm ini yang mengikuti kultur eropa khususnya di inggris ini, begitu juga dengan penggunaan jaket di Bandung memang cocok dari segi iklimnya  karena cukup sejuk. Menarik!


Persib

Persib

Persib


York City

Chelsea 1986

Leeds

Man. United 1984
Horde Zla Casuals

Aston Villa

Berdasarkan situs http://au.askmen.com, 10 pakaian yang wajib digunakan yang sejalan dengan kultur casual adalah sebagai berikut:

Casual Football Fan Fashions:

10. Lyle & Scott
 

9.  Ralph Lauren
 


8. Burberry



 











7. Pringle


 












6. Fred Perry

 















5. Fila






4. Sergio Tacchini















3. Stone Island














2. Lacoste




 












1. Adidas














Jika ingin membeli secara online, site khusus yang menjual secara online pakaian casual sebenarnya banyak, salah satunya bisa dilihat di thecasualfactory.com.

Tidak ada aturan khusus dalam mengikuti firm casual ini, apakah harus merk adidas, nike, lacoste, stone island and whatever they are called yang pasti casual disini adalah kita berpakaian rapih saat menyaksikan pertandingan, karena menurut mereka stadion adalah "tempat ibadah" yang harus dihormati, gunakan sepatu, jangan sandal apalagi tidak menggunakan alas apapun seperti grassroot yang anarkis dan selalu nyanyikan lagu-lagu rasis yang sekeras apapun suaramu, tidak akan menambah semangat pemain. Just support your local team with loud shouts, hands in the air, and of course...flare!



Daftar pustaka:
www.kaskus.com
www.wikipedia.com
www.europeanultras.com
flowerscitycasuals.tumblr.com
au.askmen.com
http://z6.invisionfree.com/UltrasTifosi/index.php?showtopic=4613&st=44

Senin, Juli 02, 2012

Pyroshow

Pertandingan Persib vs. Persidafon tadi, 2 Juli 2012 merupakan pertandingan terakhir kandang Persib di stadion Siliwangi pada putaran Liga Indonesia 2011/2012, yang dimana 2 pertandingan terakhir Persib akan melakoni laga tandang.

Berikut saya share foto-foto yang didapat dari twitter.






 Photographs of the journalists


 Flare



 Pyroshow


 Penglihatan hanya sekian meter


 NorthSide
Bersebelahan dengan Viking

 SouthSide
Bersebelahan dengan Bomber


 Poznan NorthSider


NorthSide vision of a few meters

Memulai Perubahan Pola Pikir Bobotoh Pelajar

Tulisan berikut saya ambil dari artikel di buletin NorthSider Terrace Fanzine #2 yang saya dapat saat istirahat setengah main ketika menyaksikan Persib bertanding di Siliwangi melawan Persidafon. Buletin tersebut sengaja disebar oleh gabungan beberapa supporter Persib yang berada di salah satu bagian di tribun utara stadion Siliwangi, dengan tujuan memberikan bahan bacaan kepada bobotoh disaat menunggu babak ke 2. Tulisan yang cukup bisa memberikan mungkin sedikit saja pencerdasan kepada yang membacanya :)


 Memulai Perubahan Pola Pikir Bobotoh Pelajar
text by @studentclass05

Kalau 2 atau 3 tahun yang lalu kita melihat tribun di stadion siliwangi tempat homebase PERSIB BANDUNG selalu sesak, karena banyaknya bobotoh yang tidak memiliki tiket dan memaksakan untuk masuk dengan cara apapun itu. Ditambah lagi chants yang bernada kebencian juga rasis, yang sesungguhnya TIDAK PANTAS didengar untuk pelajar bahkan dibawah umur yang ingin menyaksikan  pertandingan Persib. Itulah yang membuat kami tersadar untuk mengubah image dari diri kami menjadi bobotoh sesungguhnya. Terutama setelah melihat banner Flowers City Casuals yang dulu terpampang di salah satu sudut tribun  VIP stadion Siliwangi Bandung.

Dengan mengusung casuals style dan mengdopsi england terrace culture dalam mendukung Persib, kami mencoba sejalan dengan ikut bergabung dengan FCC yang sekarang mendiami sudut tribun siliwangi atau biasa disebut Northside Soul Terrace. Bobotoh casuals tingkat pelajar tersebut disebut Student Class Bobotoh. Dalam perjalanannya mendukung Persib di stadion, tentunya sama seperti Working Class (Kelas Pekerja.red) yang kebanyakan hanya bisa menyaksikan Perisb saat weekend saja, Student Class harus membagi waktu antara tuntutan pelajaran di sekolah dengan waktu pertandingan. Karena ada saja diantara kami yang bersekolah siang hari sedangkan pertandingan berlangsung sore hari. "Nyolong-nyolong" waktu walaupun ada pelajaran penting dihari itu bahkan saat Ujian Kenaikan Kelas sekalipun. 

Kami berkumpul dengan kawan FCC yang lain dan kelas pelajar dari berbagai penjuru kota Kembang. Kami juga selalu bersilaturahmi lewat akun jejaring sosial facebook maupun twitter @ FCCasuals05 , @Studentclass05, @TwentyCasuals, @Ultras25shs dan @DrunkenTroopers baik untuk berdiskusi atau  hanya bercanda saja. Walaupun kebanyakan rekan -rekan FCC lebih dewasa dari kami, tetapi tak ada sedikitpun rasa canggung untuk ikut berpartisipasi dan ikut bercanda dengan rekan-rekan  yang lainnya dengan tetap menjaga kesopanan agar tetap segan terhadap yang lebih tua. "Sama rata, sama rasa","Tak kenal maka tak salaman","Bela apa yang kami cinta, caci apa yang kami benci", "Intina kudu silih wawuh" dan "Silih bebaskeun, silih Do'akeun" adalah beberapa kata yang pernah kami dengan dari para rekan-rekan yang membuat kami selalu bersemangat dalam mendukung kebanggan kami PERSIB BANDUNG. 

Kembali ke pola pikir, pelajar diidentikan dengan kata "labil" karena faktor umur yang belum bisa membawa ke arah yang lebih dewasa dna ditambahnya tekanan dari berbagai pola pikir yang bisa dengan sangat mudah mempengaruhi pemikiran anaj muda tersebut. Itu baik jika diisi dengan hal positif, sefangkan kalau diisi dengan hal negatif? Tentu saja yang akan masuk kedalam pikiran kita adalah kebencian dan tingkat egoisme yang tinggi. Tetapi mulai dari diri sendiri dan kecintaan kepada Persib lah yang membawa kami ke arah lebih positif da;am hal mendukung Persib, cara berpakaian, dan polah hidup  yang bisa dipandang positif oleh orang lain. Tindakan rasisme dalam sepak bola pun semakin berkurang setelah adanya rasa sadar diri bahwa tidak ada untungnya kita bertindak rasis, "pemain Persib-nya juga nggak akan semangat kok dinyanyiin chant bernada rasisme mah"

Sekarang casuals penghuni Norhtside Terrace pun semakin banyak bahkan sangat banyak, dan berharap bobotoh semakin dewasa dalam hal mendukung PERSIB apapun caranya, PRIDE !!!

 

Bobotoh Antifasis

Tulisan berikut saya ambil dari artikel di buletin NorthSider Terrace Fanzine #2 yang saya dapat saat istirahat setengah main ketika menyaksikan Persib bertanding di Siliwangi melawan Persidafon. Buletin tersebut sengaja disebar oleh gabungan beberapa supporter Persib yang berada di salah satu bagian di tribun utara stadion Siliwangi, dengan tujuan memberikan bahan bacaan kepada bobotoh disaat menunggu babak ke 2. Tulisan yang cukup bisa memberikan mungkin sedikit saja pencerdasan kepada yang membacanya :)


Bobotoh Antifasis
text by @ouwly

Antifa Bobotoh, kependekan dari kata anti fasis dan bobotoh. Dalam sudut pandang awam dan populer fasisme seringkali disangkutpautkan dengan Hitler, Nazi dan segala macam embel-embelnya. Fasisme juga seringkali dikaitkan dengan anti-yahudi, sehingga faham neo-nazi dengan mudahnya begitu populer di beberapa kalangan Islam garis keras di negeri ini dengan semangat kebencian terhadap suatu ras.

Lantas apa itu fasis? dalam pengertian yang njlimet fasis atau fasisme adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perpektif korporitas, nilai dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat. Dalam bahasa sederhana, atau definisi sempit menurut kami, fasis adalah ideologi yang anti toleransi, pun terhadap keberagamaan kultur di atas tribun, mengagungkan simbol-simbol kebencian dan kekerasan terhadap warna lain dalam membangun kekuatan supporter. 

Tidak dipungkiri bahwa rivalitas adalah bagian dari kultur sepak bola, namun bukan kebencian terhadap warna lain adalah hal meski kita umbar saat kita berada di atas tribun, penganut antifa bobotoh lebih mengutamakan dukungan mereka terhadap tim kesayangan, menyuarakan yel-yel positif yang bisa mengobarkan semangat saat Persib Bandung berlaga, adalah tujuan utama dari kami saat berdiri tegak di belakang gawang, bukan untuk mengumbar kebencian terhadap warna lain. 

"Stay Your Ground" adalah prinsip yang kita pegang di atas tribun, pengertiannya kurang lebih "mereka jual kita beli" jangan pernah memulai suatu konflik yang berhubungan dengan bola, namun jika ada yang memprovokasi kita, jangan gentar, pertahankan apa yang kita yakini itu benar, ini lebih kepada masalah laki-laki, lawan apa yang telah mengusik harga diri kita, namun ingat, tunjuk siapa yang bermasalah, jangan pukul rata, jangan pula keroyokan, do the fair fight! at last.  Kalau pun konflik, perkelahian, tos-tosan, yeah whatever it's name, ingat, kita bukan pembunuh, tau batas, gunakan tangan kosong, pastikan kita sadar (dalam artian tidak ada substansi  yang membuat kita lepas kontrol) dan sekali lagi! jangan keroyokan. Jangan sampai ada nyawa ataupun yang terluka parah disini! hidup terlalu berharga jika meski mati untuk bola-bolaan kawan!

Lalu sejenak kita melihat kebelakang, bukan membuka lembaran duka, tragedi 27/05 kemarin seharusnya menjadi titik balik bagi kita untuk sesaat merenung, akan dibawa kemana arah kultur supporter negeri ini, sementara untuk berharap lebih pada kinerja dari otoritas yang berwenang (PSSI-PANPEL-POLISI) untuk membuat regulasi keamanan dan kenyamanan dalam menikmati sepak bola di tribun manapun di negeri ini rasanya masih teramat jauh. Sebagai supporter kita sendiri harus menciptakan kenyamanan tersebut, mulai dari memberi ruang terhadap supporter tamu walau tidak harus menyambutnya secara berlebihan, saling menjaga di atas tribun, tidak untuk menyanyikan lagu-lagu yang bernada provokatif dan tidak layak didengar fans di bawah umur, ingat banyak anak kecil di atas tribun. 

Balik lagi ke konteks anti-fasis di atas., intinya balik lagi tujuan kita datang ke tribun, kita supporter, bukan untuk menjadi haters, teman. 

NB: Percayalah kawan! jika disini kamu mengagungagungkan Adolf Hitler dengan segala embel-embel Nazinya, coba sekali-kali jika kamu punya waktu dan rejeki labih berangkat untuk menyaksikan secara langsung Liga Jerman atau liga di negara-negara Balkan, carilah tribun dimana supporter sayap kanan dan ultra nasionalis berkumpul dengan banner dan giant flag swastika, sapa mereka dan bilang kamu dari Indonesia, jika perlu sebut agama yang kamu anut sekalian. Hmmm, saya tidak yakin kamu akan baik-baik saja kawan :)

Selasa, Februari 14, 2012

INI BANDUNG!! Ini kota kami..

Paris Van java Kota Seni dan Budaya

Dari PERSIB di Liga Indonesia

Kami bangga pernah jadi JUARA!!!!